Damaskus, Tahun 693 H...
Seorang ulama besar yang bergelar Syaikhul Islam Ibnu taimiyah (yang saat
itu berusia 32 tahun) bersama Zainuddin al-Fariqi[i],
bergerak dengan sangat bergelora dalam lubuk hatinya dan rasa cemburu yang
memenuhi setiap langkah kaki keduanya.
Ia mendengar salah seorang Nasrani yang menghina dan mengkritisi Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sang teladan tuntunan umat islam.
Hatinya merasa tidak terima dengan hal itu. Akhirnya...
Ia pun berangkat menghadap pejabat pemerintah yang memimpin saat itu,
Izzudin Ubaik namanya. Ia mengadu dan menuntut hak serta hukuman untuk orang
yang telah melecehkan Nabi, agama serta kepercayaan orang lain.
Andai setiap langkahnya tersebut bisa berbicara, mungkin ia akan berkata
“Salahkah aku yang cemburu?”[ii]
Baghdad, Tahun 83 H[iii]…
Seorang khalifah yang sangat adil dan penyayang pada rakyatnya, Mu’tashim
billah (Ibrahim bin Harun ar-Rasyid, -pen) panggilannya. Ia mendengar kabar seorang
wanita muslimah tawanan perang, yang digoda dan dipermalukan oleh orang-orang
Yahudi di pasar, tepatnya di daerah Amoria.
Merasa cemburu dengan perilaku biadab orang-orang Yahudi tersebut, sang
Khalifah menggerakkan ribuan bala tentaranya dari Baghdad menuju Amoria hingga
negeri tersebut takluk ke tangan kaum muslimin.
Andai ada satu ungkapan tersembunyi yang ingin diucapkan sang khalifah,
mungkin ia akan berkata “Salahkah aku yang cemburu?”[iv]
Pakistan, Januari 2011 M…
Di Pakistan. Namanya Malik Husain Mumtaz, Ia merupakan seorang pasukan
elit militer yang bertugas sebagai pengawal Gubernur daerah Punjab. Hari itu
seperti biasanya ia sedang mengawal orasinya sang Gubernur yang menentang UU
kontroversial serta ia membela penghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, seorang wanita beragama nasrani.
Seketika itu pula, Malik bagaikan singa yang dibangunkan, tanpa pikir
panjang ia lansung menyodorkan 28 peluru ke arah sang Gubernur, dan Gubernur
pun tewas seketika di tempat.[v]
Andai hati itu ingin berteriak, mungkin ia akan berkata “Salahkah aku
yang cemburu?”
Hari ini…
Jakarta November 2016 M.
Aku mendengar kabar seorang yang menghina Al-Quran yang menjadi sumber
kehidupanku dalam dunia ini. Kabarnya Ia adalah seorang yang punya kedudukan
dan jabatan di pemerintahan. Iya, ialah pemimpin hoax sepanjang masa. Yang akan
dikenang dengan segala keburukan selama pemerintahannya.
Tiba-tiba darahku bergejolak memanas dan hatiku memberontak, ingin
rasanya menghadap orang tersebut dan memenggal lehernya di tempat.
Saudaraku, Salahkah aku yang cemburu?
Kembali pada tahun awal-awal Nabi Hijrah ke Madinah dan membina keluarga
serta ummat di sana, Kota Madinah pun menjadi pusat peradaban islam saat itu.
Suatu hari, Nabi sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, di dalam
majlis tersebut hadir sahabat-sahabat kibar (pembesar sahabat). Aisyah
pun ketika itu sedang berada dirumah.
Pada saat yang sama, datang seorang pembantu Shafiyah bintu Huyyai[vi]
(Istri Nabi yang lain), Ia membawa di tangannya piring yang didalamnya
berisikan makanan yang berkuah. Tiba-tiba Aisyah –radhiallahu ‘anha-
menepis piring tersebut dari tangan sang pembantu sampai piring dan makanan
tersebut jatuh berhamburan ketanah.
Nabi pun bersabda kepada para sahabatnya,
غَارَتْ
أُمُكُمْ
“Telah
cemburu Ibu kalian”[vii]
Mungkin hati kecil Aisyah –radhiallahu ‘anha-
akan berkata “Salahkah aku yang cemburu?”.
***
Saudaraku …
Rasa cemburu itu timbul tak lain karena ia menganggap
bahwa sesuatu itu spesial dan sangat berharga baginya.
Aku menganggap bahwa al-Quran itu spesial bagiku. Malik Husain Mumtaz
menganggap bahwa Nabi
Muhammad Itu spesial baginya. Dan Aisyah –radhiallahu ‘anha- menganggap
bahwa suami itu spesial baginya, dan seterusnya.
Salahkah aku yang cemburu?
Jangan salah sangka jika rasa cemburu ini begitu menggebu tatkala norma
syariat itu di nodai atau anggota keluargaku yang terjatuh kedalam lubang
kemaksiatan, karena itulah hakikat dari cemburu. Karena aku tak ingin terjatuh dalam cemburu buta
yang mematikan.
Karena aku tak ingin hati ini berbohong terhadap
diri sendiri. Karena aku tak ingin melepaskannya begitu saja. Dan bahkan aku
rela mati deminya. Aku cemburu, tanda aku peduli dan cinta padanya.
Salahkah aku yang cemburu?
Andai semua orang diam saat kesucian agama dan
al-Quranku di nodai, andai semua orang bungkam saat istri dan anakku berbuat
maksiat, niscaya aku akan berusaha mati-matian untuk menyelamatkannya. Sekali
lagi, karena bagiku mereka semua adalah suatu hal yang spesial.
Salahkah aku yang cemburu?
***
Aku bersyukur karena rasa cemburu itu masih melekat
dalam diriku, bersatu dengan daging-daging dan jiwaku yang paling dalam.
Andai rasa cemburu itu dicabut dari hatiku, sungguh
nian nasib ini. Kemana kan kubawa segala kehormatanku, agama dan
kesucian keluargaku.
Jangan salahkan
aku yang cemburu, salahkan dirimu yang membuatku cemburu.
