بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ
بِدَمْعِ عَيْنِي... فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُ
Kutangisi masa
mudaku dengan aliran air mataku….
Akan tetapi
tangisan dan ratapanku tiada guna…
فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ
شَبَابٍ... نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُ
Sungguh aku
bersedih dan menyesal atas masa mudaku….
Masa tua dan
rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas masa mudaku….
عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ
غَضًّا.... كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُ
Masa mudaku
telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…
Sebagaimana
batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan….
فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ
يَوْماً.... فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ
Aduhai
seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali….
Akan
kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya…
***
Kota Nabi -shallallahu
'alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 M
Oleh: Abu
Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com